Skip to main content

Cerita yang tersisa itu ada.. (2)



Jakarta, Juni 2003…
Eko sedang berleha-leha menikmati udara malam di kursi santai di teras rumahnya. Perutnya kekenyangan usai menyantap makan malam lezat bikinan Noni, istrinya. Ditemani secangkir kopi dan setoples kripik pisang, koran ditangannya sudah hampir habis ia baca. Oh ya, tentu saja perutnya masih mau diajak kerjasama untuk diisi.
“Non, temenin duduk di luar ngapa?” Teriaknya memanggil Noni. Dari tadi ia sudah bosan ditemani koran yang beritanya itu-itu melulu.
“Iya.. bentar.. Ini lagi ada telfon dari si Kugy” Balas Noni dari dalam rumah.
“Wah..! Tumben malam-malam. Kena setan apa tu anak? Gak tau apa kita lagi honeymoon..?” Eko mencerocos sendiri dari teras luar.
Di dalam rumah, Noni tidak lagi manyahuti. Karena suara Kugy di seberang telfon sudah diiringi isak tangis yang sangat dahsyat. Dan Noni hanya diam menunggu Kugy selesai bercerita.
Eko sedang menyeruput sisa kopinya ketika Noni menyusulnya duduk di teras. Wajahnya kelam.
“Kenapa, yang?” Eko keheranan melihat wajah Noni yang sudah seperti ibunya ketika ia tak kunjung tamat kuliah.
Noni tidak langsung menjawab. Melainkan menarik napas panjang berkali-kali. Eko jadi  tidak sabar melihatnya.
“Kenapa si Kugy..?” Tanyanya lagi.
“Dia diputusin sama Remi. Mereka udah gak sama-sama lagi sekarang.” Noni langsung menjawab ke pokok inti permasalahan.
“Hah? Kok bisa? Yang bener kamu?” Eko terheran-heran. Mengingat sepertinya Kugy lah yang akan naik pelaminan pertama kali mendahului kakak-kakaknya. Bersama Remi tentunya.
Maka Noni langsung menceritakan ulang percakapannya di telfon dengan Kugy, lengkap dengan air matanya.
Lama mereka berdua terdiam setelah Noni selesai bercerita. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Keheningan itu terpecah oleh suara telfon masuk di HP Eko.
“Siapa?” Tanya Noni.
Eko terdiam sejenak, menatap layar HP nya. “Meneer.”

~ ~ ~ ~ ~

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Namun bandara Soekarno Hatta memang tak pernah sepi. Lalu lintas penumpangnya tidak berbeda dengan pagi hari. Semua orang tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Begitu pun dengan Eko. Sudah dari tadi ia celingak-celinguk mencari sosok Keenan di antara kerumunan orang di terminal kedatangan.
“Meneer..! Woi..!” Akhirnya dia berhasil menemukan Keenan. Sedang berusaha keluar dari kerumunan para penjemput penumpang. Tapi yang dipanggil sepertinya tidak mendengar, sibuk berbicara di HP.
“Kumpeni sialan..,” batinnya. Terpaksa dia menyusul Keenan yang sekarang memilih duduk di kursi tunggu. “Woi..! Monyet Bulukan!” Teriaknya sekali lagi. Kontan semua orang yang berada dalam jarak dengarnya menoleh ke arah Eko.
Keenan yang baru saja selesai telfonan langsung menoleh ke sumber suara, naluri alami ketika nama aliasnya disebut. Wajahnya langsung sumringah melihat kedatangan Eko. “Keparat..! Lu gak ngira-ngira manggil nama gua di depan umum.”
“Alaah.. Peduli amat. Gua udah panggil-panggil lu dari tadi, lu nya malah sibuk telfonan.”
“Hahaha.. Iya, sori. Habis ngasih tau mak gua, kalau gua udah nyampe.”
Eko mencibir, sambil mengulurkan tangan merangkul Keenan. Mereka tertawa-tawa. Seperti dua sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu.
“Ngomong-ngomong, sodara lu sesama monyet bulukan banyak juga ya? Tadi waktu gua manggil lu, orang-orang di sini pada ngeliat semua.” Ujar Eko setengah berbisik. Setelah selesai dengan upacara umpat-mengumpat, mereka memilih untuk duduk di kursi tunggu.
Keenan tergelak. “Lu nya yang gak ngira-ngira. Palingan juga mereka mikirnya lu kagak waras.”
“Nah, kalau mereka mikir gua gak waras, lu sama dong sama gua.” Elaknya.
Orang-orang di sekitar di kursi tunggu masih memperhatikan mereka. Sepertinya benar-benar berpikir kalau mereka gila.
“Lu laper gak? Makan yuk. Laper gua. Gua traktir..” Keenan memilih untuk bermigrasi ke tempat lain. Mulai merasakan hawa tuduhan sebagai orang gila dari orang-orang di sekitarnya.
“Lu kayak gak tau gua aja. Laper gak laper, kalau yang namanya makan gratis mana mungkin gua lewatin..”
Mereka pun pindah ke salah satu kafe yang ada di bandara. Walaupun sebelumnya mengaku lapar, toh yang dipesan Keenan hanya kopi dingin dan dua potong sandwich. Beda dengan Eko yang tidak melewatkan kesempatan emas ini. Menyetir Fuad dari rumahnya ke Bandara cukup membuat sensor laparnya kambuh lagi. Sepiring spaghetti, dua potong sandwich, dan satu gelas besar minuman soda.
“Kenapa lu? Bukannya langsung pulang ke rumah, malah ngajak gua nge-date malam-malam begini.” Eko membuka percakapan.
“Ya sori.. Gua sengaja ganggu acara honeymoon lu. Kangen gua.” Keenan menjawab sekenanya.
Setelah duduk berhadapan, Eko baru bisa memperhatikan wajah Keenan dengan seksama. Ada yang tidak beres dengan sepupunya itu. Seperti sedang menyimpan beban berat. Atau, mungkin hanya lelah karena perjalanan jauh.
“Si Noni gak seneng tuh tadi, lakinya lu culik. Minta ikut dia.”
“Beneran? Wah..ntar deh gua telfon, minta maap yang sedalam-dalamnya.”
“Lagian, lu kayak yang kesepian aja. Kan ada si Luhde. Baru juga lu ketemu sama dia di Bali.”
Kunyahan Keenan terhenti sejenak. Eko langsung sadar memang ada yang tidak beres. Sepertinya berhubungan dengan Luhde.
“Nan, mendingan lu cerita deh ama gua. Dari tadi gua perhatiin lu kayak nyimpan beban apa gitu. Laper, tapi sandwich lu aja gak abis-abis dari tadi.” Eko langsung to the point. Merasa yakin firasatnya benar. “Lu ada masalah sama Luhde?”
Keenan tidak lagi menyembunyikan dukanya di balik tawa. Seketika wajahnya berubah keruh. Dia meletakkan sandwichnya di meja. Menarik nafas panjang setelah kunyahan terakhir. Kemudian menatap Eko lurus. “Gua…, Luhde minta gua pergi, ko.” Akunya singkat.
Kaget. Eko pun ikut menghentikan makannya. “Maksud lu, putus? Lu diputusin Luhde?”
Keenan mengangguk.
“Kenapa? Sebelumnya baik-baik aja kan?”
“Dia ngerasa hati gua gak tulus buat dia. Dia…dia ngerasa kalau hati gua masih ke Kugy. Dia berpikir kalau gua tetap memaksa sama dia, cuma karena saling menghargai.” Agak terbata Keenan menjelaskan. Sebetulnya butuh cerita yang panjang agar Eko mengerti permasalahannya. Tapi dia sendiri bingung harus mulai dari mana.
“Dan itu bener? Kalau hati lu masih ke Kugy?” tembak Eko.
Keenan terkejut mendengar pertanyaannya. Lebih seperti tebakan daripada pertanyaan. Dia memilih diam. Keenan tahu pasti jawabannya: Iya. Tapi untuk mengatakannya secara gamblang masih terasa berat. Dia memilih memandangi orang-orang yang berlalu-lalang.
Eko terhenyak di sandaran kursinya. Jawaban Keenan mudah dibaca. Tapi yang membuatnya terhenyak adalah cerita Noni sebelum dia berangkat ke bandara. Cerita tentang Kugy yang juga sudah ditinggalkan Remi. Kalau masalahnya bisa dipermudah, mereka bisa saja bersama. Seperti yang seharusnya, pikir Eko. Tapi tentu tidak bisa semudah itu. Eko merasa mulutnya terkunci untuk membagi cerita itu dengan Keenan. Tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya.
Hampir tengah malam, mereka memutuskan pulang. Eko mengantar Keenan ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, Eko hanya bisa menghibur Keenan sekenanya. Karena pikirannya sendiri pun tengah sibuk. Ragu antara memberi tahu Keenan perihal Kugy atau tidak. Ketika Eko akhirnya memutuskan untuk jujur, Fuad sudah memasuki pekarangan rumah Keenan. Dia sudah bersiap untuk turun.
“Bentar, Nan. Ada yang mau gua omongin.”
“Kenapa?” Dia menarik kembali tangannya yang sudah di handle pintu.
“Gua langsung aja ya. Gua sebenarnya bingung juga harus gimana bilangnya. Tapi gua rasa lu berhak tahu.”
“Iya, apaan?” Keenan tidak sabar.
“Gua gak tahu deh apa emang lu ama Kugy ditakdirkan buat sama-sama. Tapi Kugy, juga baru di putusin ama si Remi.” Eko akhirnya jujur juga.
Keenan sekarang benar-benar memutar badannya menghadap Eko. Alisnya bertaut. Merasa sepertinya ada yang salah dengan pendengarannya. “Maksud lu?”
Eko menghela nafas panjang sebelum memulai. “Tadi itu pas lu nelfon minta dijemput ke bandara, si Kugy habis nelfon Noni. Nyeritain itu. Peristiwa putusnya dia sama Remi. Tu anak putus asa banget kayaknya. Noni aja sampai nangis juga pas nyeritain ulang ke gua.”
Keenan tak bisa menyembunyikan kekagetannya. Matanya nanar menatap Eko. Menunggu kelanjutan ceritanya. Cerita lengkapnya. Bahkan kalau bisa, dia ingin mendengar rekaman percakapan antara Kugy dan Noni sekarang juga. Dia ingin tahu bagaimana cara Kugy bercerita. Sehingga ia dapat membayangkan bagaimana perasaan Kugy saat ini.
Tapi tidak mungkin. Tidak saat ini. Bukan Eko yang harus bercerita. Keenan menghenyakkan badannya. Mengalihkan tatapannya ke luar mobil. Masih terpana dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Gua cuma bisa ngasih tahu itu.” Ujar Eko tak lama kemudian. “Sekarang lu masuk dulu. Istirahat. Tampang lu udah kayak gelandangan soalnya.”
Keenan hanya menanggapi dengan anggukan. Dia turun dari mobil Eko dalam diam. Seperti zombie yang dikendalikan. Bahkan dia hampir lupa mengucapkan terima kasih pada Eko. Selepas Fuad menghilang dari pandangannya, Keenan masih termangu di teras. Banyak yang berkecamuk dalam pikirannya. Tapi Eko benar, dia harus istirahat. Keenan berbaring di tempat tidurnya tak sabar menunggu pagi. Bertemu Noni. Berharap cerita yang lebih detail.

~ ~ ~ ~ ~

Eko tidak sabar memacu Fuad dalam perjalanan pulangnya. Tidak sabar memberitahu Noni apa yang baru saja ia dengar dari Keenan. Takjub sendiri betapa mudahnya takdir mempermainkan nasib dua sahabatnya itu. Sepertinya mereka akan begadang lagi malam ini.


Masih ada part 3.. klik lagi di sini

Comments

Popular posts from this blog

grad day has done...

Scenic Views from Alaska So, yah...here it is... The Day After the Graduation day.. Mau ngapain?? what u gonna do next? well, sebenarnya gak harus nunggu wisuda buat nentuin kamu bakal jadi apa..sebelum wisuda, atau bahkan ketika masih kuliah pun, jika kamu mau, juga bisa kok.. but it-is-me..manusia penunda waktu..tabiaat yyang sangaaat...buruk..dan susah untuk dihilangkan. Didalam pikiran saia, mesti wisuda dulu biar jelas ntar mau kerja dimana. gitu..gila kan?? :( Maka ketika hari itu udah datang, baru deh bingung mikirin masa depan.. Mau kerja dimana? mau kerja kantoran atau outdoor? mau wirausaha atau jadi pegawai aja? mau ditempat favorit atau tergantung nasib? mau di ruangan ber AC atau ber "AC" (Angin Cepat alias kipas angin atau angin alami)? Mau gaji besar atau standar?? well, its up to me actually.. Tapi tentu saja, rasanya sekarang saia tidak dalam posisi bisa memilih.. (Walaupun para motivator akan selalu berkata yg sebaliknya.. -_-) Ta...

these words...

hmm...mumpung masih dalam suasana "falling", saia mau ngepost kata2 indah yg satu ini. Dapetnya dari a freind of mine named Mbak Nani..Great words.. " Bila belum siap melangkah lebih 'jauh' dengan seseorang, cukup cintai ia dlm diam,, Jika memang cinta dalam diammu itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam,, jika dia memang bukan milikmu, Allah(melalui waktu) akan menghapus cinta dalam diammu itu dengan memberi rasa yg lebih indah dan orang yang tepat,, biarkan cinta dalam diammu itu menjadi memori tersendiri pada sudut hatimu, menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu.. " bagaimana? indah kan? yah..kata2 yang mampu mengingatkan ku kembali bahwa hati ini hanya milikNya..bahwa aku telah terlalu egois menyandingkan Dia dengan dia..bahwa Dia Maha Pencemburu.. mungkin aku memang belum terlalu sempurna mempersembahkan hati ini hanya untukMu ya Rabb..Mohon Ampuni hamba..Engkau tahu hamba selalu berusah...

hahahha...funny kitty... :)