Jakarta, Juli 2003…
Sudah hampir tiga minggu Kugy menumpang di rumah Karel. Tapi kali ini
tidak menjadi parasit. Berhubung dia sendiri sudah tak bekerja lagi, dan masih
terasa berat baginya untuk kembali menulis dongeng, Kugy memutuskan untuk
membantu pekerjaan Karel. Karel sering membawa sisa pekerjaannya ke rumah.
Untung bagi Karel yang mendapatkan tenaga ekstra yang tak terduga.
“Weekend depan kamu mau ikut gak?” Karel mendadak bertanya
padanya. Mereka sedang duduk di meja makan, gotong rotong menyelesaikan ketikan
untuk bahan pekerjaan Karel.
“Ikut ke mana?” tanyanya heran.
“Weekend depan kan liburnya agak panjang tuh, harpitnas.. Nah,
kantorku ada rencana liburan ke Bandung. Kali aja kamu mau ikut, nyegarin
pikiran.” Karel menjawab dengan nada mengiming-imingi.
“Emang boleh?” Kugy sangsi. Secara itu liburan kantor.
“Ya boleh.., liburannya kan kayak liburan keluarga gitu.”
Wajah Kugy langsung sumringah. Mengiyakan dengan semangat. Tapi
kemudian tiba-tiba dia teringat sesuatu. Berhubung tujuan liburannya ke
bandung.
“Tapi aku ntar misah ya? Ada tempat yang mau aku kunjungi.”
Karel hanya mengiyakan. Melihat wajah sumringah adiknya, dia tidak
perlu bertanya lagi. Pasti tempat itu sangat spesial baginya.
Jakarta, Juli 2003...
Keenan
menyiapkan ranselnya. Ransel marun berinisial "K" yang ia pakai sejak
kuliah. Mendudukkannya di jok depan. Sementara ia duduk di belakang kemudi.
Sejenak Keenan menengadah melihat langit pagi yang yang cerah. Tak ada lagi
yang mengikatnya di mana pun. Tidak di sini. Tidak di Bali. Untuk pertama
kalinya, Keenan mencicipi penuh arti kebebasan. Dan hari ini, ia memutuskan
untuk pegi bersama angin. Bebas, seolah tanpa tujuan. Namun, angin selalu
bergerak ke satu tempat.
Jawa Barat, Juli 2003...
Hari sudah
sore saat ia tiba ke tempat ini. Kembali untuk yang ketiga kalinya. Tak ada
lagi tempat yang lebih tepat untuk ia kunjungi. Keenan langsung memarkirkan
mobilnya di tebing, bersiap menyambut gua kelelawar di bawah sana memuntahkan
isi perutnya sebnetar lagi.
Deburan
ombak yang berseru dan bertempur di bawah sana menggetarkan sekaligus
mendamaikan. Keenan telentang menghadap angkasa hingga warnanya mulai berubah
jingga. Rasanya, ia bisa di sana selamanya. Tempat ini begitu sepi. Hanya alam
dan dirinya yang berbaring hingga enrah kapan. Keenan tak lagi berencana.
Tiba-tiba
saja pandangannya menggelap. Sebuah ransel jatuh tepat di samping kepalanya.
Mata Keenan memicing. Mencoba mengenali sosok yang berdiri di atasnya.
"Kata
sandi?" Orang itu bertanya pelan.
Keenan
tersenyum. "Klapertaart."
"Hah?
Keparat?"
"Pisang
susu."
"Oke.
Lolos."
"Kok,
kamu bisa sampai di sini?" tanya Keenan.
"Aku
juga mau tanya hal yang sama. Tapi kayaknya kita berdua sudah tahu
jawabannya."
"Radar
Neptunus," Keenan tersenyum lebar. Secerah hatinya yang mendadak merekah,
dan terus-menerus mengembang seolah tiada tepi.
Pandangannya
kembali tak terhalang. Orang itu kini ikut berbaring di sebelahnya. Kugy. Dan
sepanjang ingatan Keenan, langit tak pernah seindah itu.
Bagi Kugy, langit tak pernah
seindah itu dan, suara ombak tak pernah semerdu itu. Matanya terpejam mendengarkan
alunan suaranya. Merasa lega karena keputusannya untuk menenangkan pikiran di
pantai ini adalah keputusan yang sangat tepat. Sebuah senyum tipis terukir di
bibirnya. Radar Neptunus. Sesuatu yang selama ini hanya menjadi permainan
konyol hari ini membuktikan keajaibannya. Keenan sekarang berbaring di sampingnya. Menatap langit bersama
dengannya.
"Tidur, Gy?" Suara
Keenan menyadarkannya.
"Nggak, cuma lagi
merenung aja."
"Merenungi apa?"
Kugy tidak menjawab. Melainkan
menolehkan kepalanya untuk menatap Keenan. Sebuah tatapan yang mengatakan
"Kamu pasti juga tahu". Menerima tatapan seperti itu, Keenan memilih
untuk mengembalikan pandangannya ke langit senja, begitu pun Kugy.
Mereka diam untuk beberapa
waktu yang lama. Sampai malam akhirnya datang dan langit berganti menjadi
gelap. Bulan muncul sebagai sumber cahaya alami. Bintang-bintang pun sepertinya
ingin ikut serta menjadi tontonan mereka malam itu. Membuat langit seakan
bermandikan beribu-ribu mutiara yang berkilauan. Indah sekali.
Kugy mengubah posisinya. Dia memilih
duduk sambil memeluk lututnya. Matanya masih menonton pertunjukan mengagumkan
di langit. Tapi pikirannya tertuju ke manusia di sebelahnya. Banyak yang ingin
ia tanyakan. Banyak yang ingin ia jawab. Tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
“Nan?” panggilnya pelan. Kepalanya
masih menengadah menatap langit.
“Hm?”
Kugy memutar duduknya sepenuhnya,
bersila menghadap Keenan. Keenan sekarang menatapnya, menunggu lanjutan
kalimatnya.
“Kita…, kita gimana?” Kalimat itu
terlontar begitu saja. Dia tidak sempat menyusunnya menjadi lebih baik lagi.
Hanya berharap Keenan dapat mengerti maksudnya.
Yang ditanya terdiam sejenak. Lalu ikut
duduk bersila menghadapnya. Tersenyum.
“Menurut kamu?”
“Kok malah balik nanya. Kan aku duluan
yang nanya. Jadi kamu harus jawab.” Kugy tidak rela bola panas dilempar ke
dirinya.
Keenan tertawa kecil melihat
kesewotannya. Kemudian meraih tangan Kugy, menggenggamnya lembut. “Kita gak
gimana-gimana, Gy. Kita cuma akan ngejalanin apa yang udah dikasih buat kita.
Ya kan?”
“Tapi…, Luhde, Remi?” Kugy terbata
menyebut nama mereka. Sebetulnya apa yang dikatakan Keenan sudah ada dibenaknya
semenjak dia tahu kabar perpisahannya dengan Luhde dari Noni. Tapi tentu tidak
semudah itu. Ada hati-hati terluka yang harus ia pikirkan, harus ia
pertimbangkan.
Keenan mempererat genggamannya. Dia pun
sebenarnya berpikir seperti itu. Namun tahu bahwa kali ini dia tidak boleh lari
lagi. Kesempatan itu ada. Dan dia tahu takdir ini terjadi bukan karena
kebetulan semata.
“Saya mengerti maksud kamu, Kecil.”
Keenan menghela nafas panjang. “Tapi anggaplah seperti ini. Anggap kita ini
korban dari keluarbiasaan mereka. Kamu ingat kalau kita sepakat bahwa Remi dan
Luhde adalah manusia-manusia luar biasa yang ada untuk kita? Remi bagaikan dewa
penolong buat saya, dan Luhde, seperti yang kamu bilang, dia seperti malaikat.”
Kugy yang sudah mulai membuka mulutnya
untuk bersuara, akhirnya terdiam. Keenan benar. Remi dan Luhde manusia-manusia
luar biasa yang mungkin sempat terpeleset sejenak, karena bertemu dengan mereka
berdua. Dan itu terjadi karena mereka memiliki hati yang luar biasa untuk
mencintai.
Melihat Kugy terdiam, Keenan kembali
melanjutkan. “Kecil…, kita diberikan kesempatan ini bukan untuk disia-siakan.
Kita sudah lakukan yang terbaik yang kita bisa. Tapi takdir selalu tahu apa
yang yang lebih baik.” Keenan
mengangkat wajah Kugy yang tertunduk dengan ujung jarinya. “Pak Wayan pernah
berkata seperti ini ke saya. Hati itu tidak memilih, tetapi dipilih.”
Kugy terpana menatap mata Keenan.
Mencoba mencerna kalimat terakhirnya. Untuk waktu yang terasa sangat lama,
mereka hanya saling menatap. Keenan tersenyum. Perlahan Kugy mengerti.
“Tapi untuk kasus kita, sepertinya
Radar Neptunus ikut memberi kontribusi.” Ujarnya tak lama kemudian.
Keenan tertawa. Kemudian merengkuh
tubuh kecil Kugy dalam pelukannya. Erat. Tidak ada lagi beban. Semuanya sudah
selesai. Mereka hanya tinggal menggapai mimpi. Yang sekarang seperti
menggantung menggoda di atas kepala mereka, siap untuk mereka petik.
Malam itu mereka habiskan dengan berkendara menuju pantai
yang lebih landai,
mengunjungi hotel bintang sejuta. Dengan room service mie rebus dan teh tawarnya.
Karena lapar pun sudah ikut menjadi bagian dari acara reuni mereka.
Sekarang.., sampai disini dulu. Tapi kisah ini belum berakhir. Tunggu perahu kertas ku ya.. :D
Heeiii!! I just finished reading and IT IS AWESOME!! :D
ReplyDeleteMasih kebawa karakter Kugy n Keenan dan lucunya Eko n Noni. :)))
Beberapa typo masih ada tapi saya maklumi karena penulisnya mungkin saat itu terlalu terbawa ke alam Neptunus sampe lupa diri. Hahhaha...
Ayo lanjutin lagi, ca..!! Or maybe bikin cerita khusus si Noni n Eko. Hihi... Atau, atau... Cerita masing2 pasangan atau point of view beberapa tokoh. Man, this story is too awesome I hope there would be an actual sequel!!
This comment has been removed by the author.
Deletehuhuhu..thx pal.. Saia jadi terhanyut -,-'
ReplyDeleteLanjutannya lagi nongkrong di kepala dulu. blum mau keluar. Ntar deh klw udah selesai tak ketik lagi :D