Jakarta, Juni 2003…
Semuanya sudah selesai. Kugy
benar-benar merasa merasa menjadi makhluk paling jahat di dunia. Bak serangan
bertubi-tubi. Ketika dia sedang belajar bagaimana caranya melepas, Remi memilih
untuk meninggalkannya.
Semua memang
salahku, dari awal ini semua salahku. Tapi apa aku salah karena sudah mencoba?
Lama Kugy termangu di ayunan meratapi
nasibnya. Merenungi ulang apa yang baru saja tadi. Merenungi kembali kata-kata
Remi.
Carilah orang
yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.
Seandainya Remi tidak pernah ada, Kugy
sudah tahu pasti siapa jawabannya. Buku dongeng ditangannya sudah cukup menjadi
bukti. Dia tidak akan pernah lupa bagaimana luar biasanya kerja kerasnya untuk
bisa membuat buku itu selesai tepat waktu. Bagaimana bahagianya ia ketika
menggunting, menempel, dan menggabungkan ceritanya dengan gambar-gambar Keenan.
Bagaimana sumringahnya ia membayangkan reaksi Keenan ketika menerima buku itu,
walaupun itu tidak pernah terjadi.
Tapi Keenan sekarang sudah berada di
dimensi yang berbeda. Sebuah ruang yang tak mungkin ia jangkau. Kini semuanya
berantakan, berbeda. Remi pun telah pergi. Ia memilih untuk membiarkan hati
Kugy berlabuh ke tempat yang benar. Tapi tempat itu sudah tidak ada. Semuanya
sudah terlambat.
Tanpa sadar jemarinya mulai
membuka-buka lagi buku dongeng ditangannya. Surat itu terselip di dua halaman
pertama.
Hari ini aku
bermimpi.
Aku bermimpi
menuliskan buku dongeng pertama ku.
Sejak kamu membuatkanku
ilustrasi-ilustrasi ini,
aku merasa
mimpiku semakin dekat.
Belum pernah
sedekat ini.
Hari ini aku
juga bermimpi.
Aku bermimpi
bisa selamanya menulis dongeng.
Aku bermimpi
bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu.
Bersama kamu,
aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.
Bersama kamu,
aku ingin memberi judul bagi buku ini.
Karena
hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat,
segala
sesuatunya ada, segala sesuatunya benar.
Dan Bumi
hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Selamat Ulang Tahun.
Sejak Noni mengembalikan buku itu
padanya, Kugy belum pernah membaca kembali surat itu. Bukan karena benci. Tapi
hanya takut jika hati yang sudah susah payah dibangunnya untuk Remi menjadi
runtuh lagi. Walaupun semenjak pertemuannya kembali dengan Keenan, hatinya
mulai ambruk sedikit demi sedikit.
Tapi sekarang tidak ada salahnya
membaca kata-kata itu lagi. Tidak ada lagi hati yang yang perlu ia jaga. Ia
bahkan tidak tahu lagi bagaimana caranya merasa. Hatinya seperti dibungkus es.
Bebal. Tanpa rasa.
Menelusuri kalimat demi kalimat yang ia
tulis pada surat itu, membuat air matanya mengalir semakin deras.
Sekarang, entah bagaimana caranya ia
dapat meraih mimpi itu kembali.
~ ~ ~ ~ ~
Balkon belakang berbentuk bak beton itu
selalu menjadi tempat favoritnya. Dia bisa melakukan apa saja disana. Segala
sesuatu yang berhubungan dengan dunia khayalnya. Pikirannya bisa lepas dan
bebas. Kali ini ia sedang mencurahkan isi hatinya di selembar kertas. Kertas
yang nantinya akan ia bentuk menjadi perahu.
“Gy..! Makan!” Terdengar teriakan Karel
dari bawah.
“Bentar kak..! Duluan aja!” balasnya.
Sudah tiga hari semenjak peristiwa
dengan Remi berlalu. Kugy memang memutuskan untuk menginap di rumah Karel. Mencoba mengumpulkan kekuatan. Begitu
jawabnya ketika Karel bertanya. Kemarin dia sudah menceritakan semuanya pada
Karel. Semuanya. Termasuk memperlihatkan buku dongeng dan surat itu. Dia sudah
merasa lebih lega. Karel memang pendengar dan penasehat terbaik baginya. Dengan
kata-katanya, Karel tidak membuatnya merasa terpojok atau dihakimi.
Suratnya sudah selesai. Sekarang
tinggal melipatnya menjadi perahu. Senyum tipis tergurat di wajah Kugy.
Membayangkan kembali betapa surat-suratnya untuk Neptunus selalu membantunya
untuk mangatasi kekacauan hatinya.
“Kak, aku ke sungai di belakang komplek
dulu ya..!” Sambil berlari ia menuruni tangga besi dan melesat keluar rumah.
Setengah kaget Karel mengiyakan dari
meja makan. “Hati-hati!” sahutnya.
Nus, suratku yang
ini dibaca secepatnya ya..
Aku bingung, Nus.
Seandainya saja aku bisa ikut berlayar bersama perahu kertasku ini, pasti
semuanya akan lebih baik.
Aku ingin hilang,
Nus. Aku ingin lenyap, walaupun cuma sebentar. Aku ingin pergi ke dunia dimana
aku tidak mengenal manusia itu. Keenan.
Perahu kertasnya
meluncur dengan tenang mengikuti arus sungai. Kugy masih berdiri disana sampai
perahu kertas itu menghilang dari pandangannya. Hatinya terasa
sedikit lebih lega. Seperti yang selama ini terjadi setiap kali perahu
kertasnya berlayar.
Ubud, Juni 2003...
Dia sedang berdiri di balik gerbang
kayu tinggi, menunggu mobil jemputannya ke bandara. Lama ia tertegun menatapi
onggokan kayu di tangannya. Bahkan bukan nama saya yang Keenan ukir di situ.
Ucapan Luhde barusan kembali terngiang-ngiang di telinganya. Memang bukan namanya
yang Keenan ukir. Bahkan ketika ia mengukir kayu itupun, bukan Luhde yang ada
di pikirannya. Pun yang mendorong hatinya untuk mengukir kayu itu. Dari awal
memang bukan Luhde.
Tapi Luhde memang pernah menjadi bagian
dari hatinya. Luhde pernah menjadi alasannya untuk tidak sabar segera pulang ke
Ubud. Kata-kata bijaknya yang sederhana mampu menghilangkan rasa gelisahnya.
Keluguannya, paras ayunya, suaranya, segalanya tentang Luhde begitu istimewa.
Luhde lah yang selalu ada baginya
ketika dia buntu dalam berkarya. Menemaninya melewati masa-masa sulit itu. Dia merasa
sangat senang ketika Luhde dengan setia menungguinya melukis.
Tetapi sekarang semuanya terasa kabur.
Semakin ia mengingat-ingat segala alasan kenapa ia memilih Luhde, semakin ia
menyadari bahwa semuanya berdasarkan rasa terima kasih, balas budi. Keenan
merasa seperti seorang pengecut. Tetapi memang itulah kenyataannya. Bahkan di
saat terakhir mereka bersama pun, dia tetap menjadi pengecut.
“Belum jadi berangkat, Keenan?” Suara
Pak Wayan menyadarkannya dari lamunan.
Pak Wayan membuka pintu gerbang lebih
lebar. Dari cara berdirinya, sepertinya beliau sudah memperhatikannya termangu
di situ sejak lama.
“Saya.., mobilnya belum datang, Poyan.” Keenan mengalihkan alasannya.
“Keenan, Poyan sudah tahu apa yang terjadi antara kamu dan Luhde. Poyan lihat tadi.”
Keenan terkejut. Tergagap karena tidak
tahu harus bicara apa kepada Pak Wayan. Karena bagaimana pun, apa yang terjadi
antara dia dan Luhde adalah kesalahannya. Dan Luhde adalah keponakan Pak Wayan.
“Saya…, saya minta maaf, Poyan.” Akhirnya hanya itu yang bisa
diucapkannya, sembari tertunduk.
“Poyan
memang sedih. Berduka untuk Luhde. Tapi kamu juga tidak perlu merasa seperti
itu” Pak Wayan menepuk bahunya. “Alasan cinta ada memang berbeda-beda bagi
setiap orang. Tapi hati tetap tahu kemana dia harus pergi. Bahkan sekalipun
jika ia harus bersikeras. Karena ia dipilih, bukan memilih.” Pak Wayan
mengalihkan pandangannya ke depan. Menatap petak-petak sawah yang berwarna
kekuningan tertimpa sinar matahari senja. Namun pandangannya seperti menerawang
jauh. “Poyan sudah hidup cukup lama
untuk memaklumi itu semua. Jadi, Poyan
sangat mengerti keadaan kamu.”
Keenan tertegun mendengar ucapan Pak
Wayan. Ucapan yang sama seperti yang dilontarkan Luhde padanya sore tadi…
Berikutnya jatah part 2...di sini
Comments
Post a Comment
Sekapur sirih dari anda akan sangat berharga... jaelaah.. :D