Ketika niat baik di salah artikan.
Ini yang namanya Pembunuhan Karakter.
Serasa lagi terlibat dalam intrik drama korea.
Ada orang-orang yang demi mengamankan posisi sendiri, biarlah teman dan saudara jadi kelihatan buruk dimata orang.
Ada juga orang-orang yang dengan setia dicuci otaknya oleh si karakter Antagonis. Mendengarkan dengan penuh seksama hanya karena yang disampaikan sesuai dengan ego, tidak dengan hati kecil. Dan astaga.., kemudian dengan bangganya mengumbar kabar hasil pencucian otaknya ke setiap orang yang mau mendengar berasa sudah menjadi orang yang paling tau segalanya.
O ya, ada juga orang-orang yang diharapkan sebagai tempat bercurah hati, tapi tidak disangka tidak diduga ternyata juga sudah termasuk golongan di atas.
Hingga di pertengahan cerita ini, sang Protagonis memilih untuk pasrah, dan bertingkah patuh sesuai dengan apa yang diinginkan Keadaan. Karena pada tahap ini Keadaan tak berbicara apa-apa selain diam. Berharap Protagonis paham, "untuk saat ini, inilah yang terbaik".
Dari sini menuju akhir, satu per satu mulai bangun. Korban-korban antagonis mulai menyadari kejanggalan, berita hasil cuci otak diralat sedikit demi sedikit, dan tempat bercurah hati pun mulai bisa mendengar Keadaan. Karena Keadaan sudah mulai mampu berbicara.
Dan yah.. hasilnya memang selalu klise, yang benar akan selalu menang. Sang Protagonis hanya butuh bersabar dan bersabar. Karena bangunnya mereka tidak dalam sekejap. Karena tergelincirnya Antagonis pun butuh waktu.
Ini yang namanya Pembunuhan Karakter.
Serasa lagi terlibat dalam intrik drama korea.
Ada orang-orang yang demi mengamankan posisi sendiri, biarlah teman dan saudara jadi kelihatan buruk dimata orang.
Ada juga orang-orang yang dengan setia dicuci otaknya oleh si karakter Antagonis. Mendengarkan dengan penuh seksama hanya karena yang disampaikan sesuai dengan ego, tidak dengan hati kecil. Dan astaga.., kemudian dengan bangganya mengumbar kabar hasil pencucian otaknya ke setiap orang yang mau mendengar berasa sudah menjadi orang yang paling tau segalanya.
O ya, ada juga orang-orang yang diharapkan sebagai tempat bercurah hati, tapi tidak disangka tidak diduga ternyata juga sudah termasuk golongan di atas.
Hingga di pertengahan cerita ini, sang Protagonis memilih untuk pasrah, dan bertingkah patuh sesuai dengan apa yang diinginkan Keadaan. Karena pada tahap ini Keadaan tak berbicara apa-apa selain diam. Berharap Protagonis paham, "untuk saat ini, inilah yang terbaik".
Dari sini menuju akhir, satu per satu mulai bangun. Korban-korban antagonis mulai menyadari kejanggalan, berita hasil cuci otak diralat sedikit demi sedikit, dan tempat bercurah hati pun mulai bisa mendengar Keadaan. Karena Keadaan sudah mulai mampu berbicara.
Dan yah.. hasilnya memang selalu klise, yang benar akan selalu menang. Sang Protagonis hanya butuh bersabar dan bersabar. Karena bangunnya mereka tidak dalam sekejap. Karena tergelincirnya Antagonis pun butuh waktu.

Comments
Post a Comment
Sekapur sirih dari anda akan sangat berharga... jaelaah.. :D