Skip to main content

I'm a Naina Talwar?

Have you heard this name before? Well, kalau pencinta bollywood pasti udah dong ya..?
Ini jelas bukan nama seleb India, tapi nama salah satu karakter utama di film Yeh Jawaani Hai Deewani (YJHD). Cewek kutu buku yang memutuskan ikut pendakian sama temen-temen lamanya, yang akhirnya ikut merubah kepribadiannya jadi lebih fun dan open (well, at least itu yang bisa saya simpulkan secara sederhana :| ).
Jadi ceritanya saya baru nonton ini film kira-kira seminggu yang lalu (iya..tau...ketinggalan banget dah gua, secara ini film rilis 2013). Yah..namanya juga saya bukan penggemar bollywood movie kecuali yang emang ngetrend sejagad. Like My Name is Khan? Atau Kuch-kuch hotta hai? (What? [-( ). Anyway, ceritanya lagi, saya pun cukup terkesan lah dengan film ini (catet: terkesan banget, sampai-sampai suka and download soundtracknya) - apa-apaan ini? -, yah.. jadi intinya begitulah, Gua sukaaaa.. (belibet amat ya?).
Yah.. sederhana sih alasannya, pertama ide ceritanya. Gak basi, seru, fun, gak neko-neko. Kedua, film making nya gak main-main. Sutradara plus crewnya kece abis dah (silakan nonton BTS nya jika ingin mengetahui lebih lanjut). Ketiga, Lokasi shootnyaaaa.. \m/ keren abisss... Di Manali (plus ngedaki gunung saljunya), Rajasthan, Udaipur (plus sunsetnya), etc (cuma itu yg saya tau). Keempat, Cast nya. Ini bagian yang lumayan menarik. Secara cast utamanya adalah The most popular off screen couple di India beberapa tahun yg lalu (yah..they break up already, haha). Jadi ini film reuni mereka setelah putus and they did just great.
So, Naina Talwar is the heroine of the movie (obviously, duh! :-w ). She's a smart nerd, boring person, introvert, but she can speak up her mind. At least to her family. Di awal film diperlihatkan kalau Naina lumayan tertekan sama sikap strict ortunya. Yah.. tipe ortu yang seneng kalau anak gadisnya stay di rumah aja, dan kalau hang out sama mereka aja. (What a "great" life!). Well, tell me about it. -_-"
Tapi setelah ketemu salah satu temen lamannya yang ternyata mau ikut pendakian di Manali, Naina memutuskan untuk merubah hidupnya. Take a new challenge, Try to make her life different. Bukan dalam artian memberontak tentunya. Tapi di tengah kebosanannya dengan hidup yang begitu-begitu aja, dia ingin merasakan hal yang berbeda, at least for once. So she steps up to the challenge, dan ikut bergabung sama rombongan pendakian yang 3 orang diantaranya adalah mantan teman sekolahnya (O, ya, ini cerita waktu mereka udah usia college). Ortunya ya terang aja gak ngasih ijin, tapi Naina cukup sering nonton film juga kayaknya, secara dia menggunakan cara yang paling klasik yaitu, pergi-dari-rumah-pagi-pagi-sekali-dengan meninggalkan-sepucuk (atau dua pucuk?)-surat-di-meja-makan. Incredible -_-"
And the trip? Ternyata it's woth it. Perjalanan mereka memang bisa memberikan experience yang luar biasa bagi Naina. Mencoba hal baru dan ketemu orang baru, Naina mulai bisa lebih open, jadi diri sendiri, lebih ceria, lebih 'colorful', etc. Yang pada akhirnya membantu dia buat sadar bahwa dia gak harus merasa tertekan dengan kehidupannya, karena dia sendirilah yang bisa memutuskan, kalau dia ingin hidup dengan lebih free. Yah..bukan berarti akhirnya dia cekcok sama ortunya dan memilih pergi, tapi lebih kepada dia bisa mengkondisikan ortunya agar sadar kalau dia bukan anak kecil lagi. Dan dunia tidak 'se-berbahaya' yang mereka kira.
So, who the hell am I? Saying my self is a Naina Talwar? Ha ha ha
Well, obviously, after what I wrote above, I'm no compare to this girl but her suck life. But please let me tell ya'll my story, so you can find a tiny similarity between me and her.
Saya menghabiskan waktu enam tahun high school di sebuah boarding school khusus perempuan. So, you know what I mean, We have no boyfriends (not BF, but friend-zone boyfriends). Maka ketika kuliah saya merasa agak tertekan dengan lingkungan yang sangat-sangat baru (secara milih jurusan gak nanggung-nanggung bro, Teknik Komputer, yang mana jumlah cewek dalam satu lokal bisa diitung pake biji salak). Alumni sebuah pesantren dengan jilbab lebarnya, pake rok ke mana-mana, gak boncengan sama cowok, gak mau salaman sama cowok, maka jadilah saya alien ditengah-tengah mereka. Butuh waktu lama bagi saya untuk beradaptasi. Yah..sekitar beberapa semester lah (buset dah).
Saya habiskan waktu kuliah dengan menjadi kupu-kupu gak pake malam :-$ (kuliah-pulang), gak ikut organisasi apapun (bukan karena introvert, tapi lebih kepada mutunya, saya gak menemukan nilai plusnya), gak punya geng apapun.
Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai open. Bukan berarti saya tiba-tiba jadi liar -_-", tapi dalam beberapa kesempatan saya berusaha tunjukkan kalau saya bukan introvert sejati. Misalnya tertawa lebih ikhlas (baca: ngakak), bicara lebih stereo (baca: teriak), etc. Mereka pun begitu, mulai mengikutsertakan saya dalam acara makan-makan di kantin misalnya (wow, great -_-" ). Atau ngajak jalan sepulang sekolah walaupun ujung-ujungnya juga cari makan, dan psst..(bacanya bisik-bisik ya) tau kan istilah buat pergi nyanyi-nyanyi bareng tapi tempatnya gak aneh-aneh, yang pengunjungnya juga banyak yang bawa keluarga? (gak bisa bilang, karena sama orang rumah masih tabu [-( ), nah..kadang saya juga diajak kesana. Well, selama tempatnya gak yang "aneh-aneh", masih family oriented, it's no big deal I guess. So, lama-lama kita jadi punya semacam geng sendiri. Of course I'm not the only girl. Selain saya ada dua cewek lagi yang udah kayak sodara sendiri.
Good girl gone bad? I don't think so. Saya hanya expand cara gaul saya tanpa menghilangkan jati diri saya. I'm still doing my duty as a muslimah. Saya akhirnya memang mau boncengan sama cowok, but no touching. Kalau pun pada beberapa kesempatan saya 'rada' touchy, itu lebih kepada pemukulan instead of personal feeling kind of touch, the hell..Cuz actually I'm a fun person. I'd like to have fun.
Kembali lagi ke Mbak Naina Talwar. Satu hal yang bikin saya iri sama Naina adalah, keputusannya untuk ikut pendakian itu. Bukan iri sama eventnya, lah wong dua tahun lalu saya juga udah ngedaki Marapi (walaupun tanpa ijin ortu -,-"), tapi iri sama kemampuannya speak up ke ortunya kalau dia juga ingin punya jalan hidup sendiri. Dia ingin mencoba hal baru, sendiri.
Saya? Pergi ke Surabaya bareng temen aja gak boleh, boro-boro sendiri. Memang sih itu waku kuliah, masih hidup pake uang ortu, jadi gak bisa terlalu banyak omong. Tapi waktu udah lulus pun, keliling Jakarta juga gak boleh. Jadi ceritanya, kita lagi ngunjungin kakak saya yg tinggal di Banten. Nah.. mumpung liburan saya janjian dong sama temen saya yang domisili di Jaksel buat jalan bareng. Yah..jalan bareng temennya sih boleh (walaupun setelah terjadi pemaksaan), jalan sendirian dari Banten ke Jaksel nya yang kagak boleh brow..weleh..jadilah saya diantar kakak ipar sampai lokasi janjian yang bikin saya gak enak hati setengah mati.
Makanya sekarang, tahun ini, mumpung udah kerja, saya lagi nabung buat plesir ke negara tetangga. Mudah-mudahan aja ini adalah awal dari impian saya keliling dunia, backpacking style. Yah.. kalaupun gak jadi ke negara tetangga, muter-muter Indonesia dulu juga boleh.. yang penting plesir sendiri atau sama temen. Dan, no no no.., though later they said no, I'm unallowed, I'm still leavin'. Cuz it's my life, and I'm a big girl, and obviously it's my moneh. Period.

Comments

  1. Well, sometimes when it's your own resource, parents will think twice and hopefully believe "inyo lah gadang, bialah". Happy saving, pal!

    I am also saving for my honeymoon yang ga jadi-jadi :D LOLOLOLOL

    ReplyDelete
  2. Hahaha..wish u the best luck for the honeymoon too.. :D

    ReplyDelete
  3. Ayo, ke Alaska. *heh

    ReplyDelete

Post a Comment

Sekapur sirih dari anda akan sangat berharga... jaelaah.. :D

Popular posts from this blog

grad day has done...

Scenic Views from Alaska So, yah...here it is... The Day After the Graduation day.. Mau ngapain?? what u gonna do next? well, sebenarnya gak harus nunggu wisuda buat nentuin kamu bakal jadi apa..sebelum wisuda, atau bahkan ketika masih kuliah pun, jika kamu mau, juga bisa kok.. but it-is-me..manusia penunda waktu..tabiaat yyang sangaaat...buruk..dan susah untuk dihilangkan. Didalam pikiran saia, mesti wisuda dulu biar jelas ntar mau kerja dimana. gitu..gila kan?? :( Maka ketika hari itu udah datang, baru deh bingung mikirin masa depan.. Mau kerja dimana? mau kerja kantoran atau outdoor? mau wirausaha atau jadi pegawai aja? mau ditempat favorit atau tergantung nasib? mau di ruangan ber AC atau ber "AC" (Angin Cepat alias kipas angin atau angin alami)? Mau gaji besar atau standar?? well, its up to me actually.. Tapi tentu saja, rasanya sekarang saia tidak dalam posisi bisa memilih.. (Walaupun para motivator akan selalu berkata yg sebaliknya.. -_-) Ta...

these words...

hmm...mumpung masih dalam suasana "falling", saia mau ngepost kata2 indah yg satu ini. Dapetnya dari a freind of mine named Mbak Nani..Great words.. " Bila belum siap melangkah lebih 'jauh' dengan seseorang, cukup cintai ia dlm diam,, Jika memang cinta dalam diammu itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam,, jika dia memang bukan milikmu, Allah(melalui waktu) akan menghapus cinta dalam diammu itu dengan memberi rasa yg lebih indah dan orang yang tepat,, biarkan cinta dalam diammu itu menjadi memori tersendiri pada sudut hatimu, menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu.. " bagaimana? indah kan? yah..kata2 yang mampu mengingatkan ku kembali bahwa hati ini hanya milikNya..bahwa aku telah terlalu egois menyandingkan Dia dengan dia..bahwa Dia Maha Pencemburu.. mungkin aku memang belum terlalu sempurna mempersembahkan hati ini hanya untukMu ya Rabb..Mohon Ampuni hamba..Engkau tahu hamba selalu berusah...

hahahha...funny kitty... :)